Particulate Matter
Halo Sobat Chemistalk!
Pada topik sebelumnya, kita telah mengetahui betapa pentingnya udara bersih untuk kehidupan seluruh makhluk hidup di bumi ini. Namun, apa yang akan terjadi apabila udara yang kita hirup tercemar oleh polutan tanpa kita sadari? Apa jenis polutan yang biasa mencemari udara kita?
Simaklah artikel berikut!
Pencemaran udara merupakan salah satu permasalahan kota-kota besar di Indonesia dan seluruh negara di dunia. Particulate Matter (PM) adalah campuran padat padat dan aerosol yang terdiri dari tetesan kecil cairan, fragmen padat kering, dan inti padat dengan pelapis cair. Partikel sangat bervariasi dalam ukuran, bentuk dan komposisi kimia, dan mungkin mengandung ion anorganik, senyawa logam, unsur karbon, senyawa organik, dan senyawa dari kerak bumi. PM dapat dipancarkan langsung dari sumber (partikel primer) atau terbentuk di atmosfer melalui reaksi kimia gas dan senyawa organik tertentu.
Perbedaan antara PM 2.5 dan PM 10:
Berdasarkan ukurannya, PM dibagi menjadi PM 10 dan PM 2.5. PM10 adalah partikel udara yang berukuran lebih kecil dari 10 mikron (mikrometer). Sumber dari PM10 termasuk debu dari lokasi konstruksi, tempat pembuangan sampah dan pertanian, kebakaran hutan, limbah sumber industri, debu yang tertiup angin dari lahan terbuka, serbuk sari serta serpihan bakteri. Sedangkan PM 2.5 adalah polutan udara berupa debu, kotoran, jelaga maupun asap yang berukuran sangat kecil, sekitar 2.5 mikron (mikrometer). Polutan yang terdiri dari aerosol ini sebagian besar bersumber dari emisi.
Apakah dampak PM berbahaya?
Polusi udara secara tidak langsung dapat menjadi penyebab kematian sekitar 4,3 juta kemaian tiap tahunnya terjadi di negara berkembang yang terjadi akibat dari terpaparnya polusi udara luar ruangan. Sesuai dengan ukurannya, PM 2.5 memiiki kemungkinan lebih besar untuk dapat masuk menembus sistem saluran pernapasan manusia dan terikat darah melalui pertukaran gas pada alveolus paru sehingga dapat menyebabkan deposit pada alveolus dan mengakibatkan kerusakan sel dibandingkan PM10. Penelitian terkait efek kesehatan akibat pencemaran udara di China menunjukkan adanya peningkatan kejadian kanker paru-paru dihubungkan dengan kandungan PAH dalam PM2.5 selama satu dekade terakhir. Partikel PM 10 memang lebih besar dari pada PM 2.5, namun bukan berarti PM10 tidak berbahaya, Paparan jangka pendek terhadap PM10 telah dikaitkan terutama dengan memburuknya penyakit pernapasan, termasuk asma dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), yang menyebabkan rawat inap dan kunjungan ke unit gawat darurat.
Selain itu PM berdampak buruk pada ekosistem, termasuk tumbuhan, tanah, dan air melalui pengendapan PM dan selanjutnya diserap oleh tumbuhan atau pengendapannya ke dalam air yang dapat memengaruhi kualitas dan kejernihan air. Logam dan senyawa organik dalam PM memiliki potensi terbesar untuk mengubah pertumbuhan dan hasil tanaman. Dampak buruk dari PM juga mengakibatkan pemanasan global, deposisi asam, penurunan kualitas udara, dan masih banyak lagi.
Siapa yang beresiko terhadap paparan Materi Partikulat?
Dalam hal ini, orang tua, anak-anak atau bayi, dan orang yang telah mengalami gangguan jantung maupun paru-paru serta orang yang memiliki profesi di luar ruangan (pedagang kaki lima) memiliki resiko terbesar terhadap paparan materi partikulat ini. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi kekebalan tubuh yang kurang stabil dan tingkat kebutuhan akan udara yang dihirup lebih banyak disbanding orang normal.
Lalu, apa yang dapat kita lakukan?
Tingkat pencemaran materi partikulat sudah dapat terukur oleh Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Pemantauan ISPU ini bermanfaat untuk mengetahui seberapa baik atau buruknya kualitas udara di suatu lokasi, supaya kondisi udara bisa terjaga kualitasnya bagi kesehatan masyarakat, dengan harapan ISPU selalu pada kategori hijau dengan nilai dibawah 50. Jika nilai ISPU sudah diatas nilai baik, maka dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk dilakukannya upaya-upaya pengendalian pencemaran udara untuk menurunkan jumlah parameter pencemar yang melebihi ambang batas yang ditentukan. Untuk menjaga kualitas udara tetap baik (kategori hijau pada ISPU), kita perlu mengefisiensikan penggunaan kendaraan bermotor (gunakan kendaraan umum), tidak membakar sampah (melakukan 3R), menggunakan produk ramah lingkungan, penanaman pohon, menggunakan alat penyaring udara, pengujian emisi kendaraan dan hasil pabrik, dan lain-lain. Langkah solusi di atas tidaklah sulit untuk kita lakukan. Oleh karenanya, mari kita mulai bergerak untuk mengurangi tingkat pencemaran materi partikel dari diri kita masing-masing.
Semangat Sobat! ^^
Sumber :
https://images.app.goo.gl/gKTtsyzkKDAuStcUA
https://ww2.arb.ca.gov/resources/inhalable-particulate-matter-and-health
https://www.detik.com/bali/berita/d-6424426/10-cara-mengatasi-pencemaran-udara-dan-pencegahannya
https://ftsl.itb.ac.id/wp-content/uploads/sites/8/2020/06/7.-Jurnal-TL-ITB-Elsa_SD_REV1-101-120.pdf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar